Faktamuslim.com, Jakarta--Usai sudah Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional yang digelar GNPF Ulama di Jakarta, 27-29 Juli 2018. Pertemuan ini, salah satunya, menghasilkan rekomendasi nama Capres dan Cawapres yang hendak bertarung pada arena Pilpres 2019 esok. Prabowo Subianto muncul sebagai Capres. Sedangkan salah satu dari Habib Salim Segaf Al-Jufri dan Ustadz Abdul Somad menjadi Cawapresnya.
Tentu saja, pasangan tersebut bukan 100% sempurna. Sebagaimana tidak semua peserta ijtima menyetujuinya secara aklamasi. Bahkan, rekomendasi GNPF Ulama itu juga belum tentu dilaksanakan oleh partai kontestan Pilpres 2019. Karakteristik politik di Indonesia terlalu nakal, naif untuk bisa menggantungkan harapan besar pada satu tokoh semata.
Bahkan, keabsahan sistem politik di Indonesia juga menjadi perbincangan yang belum usai di kalangan aktivis Islam. Bagi mereka yang memilih tidak turut serta dalam Pemilu—dengan berbagai alasan dan latar belakang—rekomendasi itu itu akan berlalu begitu saja. Lalu apa gunanya ijtima tersebut?
Akan lebih menarik bila kita mencermati proses yang berlangsung selama ijtima ketimbang hanya fokus kepada buah yang dihasilkannya. Yaitu, berkumpulnya beberapa ulama dan tokoh umat Islam dalam satu meja untuk membicarakan berbagai masalah yang dihadapi umat Islam di Indonesia.
Adanya ruang bagi para tokoh umat Islam untuk saling sapa dan bertatap muka secara langsung, juga menjadi nilai strategis bagi acara ini. Menghangatkan jalinan ukhuwah, sekaligus merontokkan syak wasangka yang sebelumnya mungkin membelenggu di antara mereka.
Bila pola musyawarah seperti ini dilanggengkan, dapat menggantikan kebiasaan-kebiasaan sebelumnya di mana satu-dua tokoh membuat sebuah keputusan dan menamakannya atas nama umat. Terlebih menyangkut masalah yang sangat sensitif, seperti rekomendasi bursa Capres dan Cawapres.
Namun ijtima kemarin bukan hanya soal Capres dan Cawapres, yang secara khusus digodok dalam Komisi Politik. Masih ada dua komisi lain, yaitu Komisi Dakwah dan Komisi Organisasi. Pembagian seperti ini menunjukkan GNPF Ulama “melek” terhadap realitas masalah yang dihadapi oleh umat.
Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang cukup besar dengan mayoritas memeluk Islam, Indonesia memiliki kompleksitas masalah dalam dakwah. Apalagi, obyek dan subyek dakwah yang ada sangat beragam.
Karakteristik masyarakat obyek dengan tingkat pemahaman yang berbeda-beda, memerlukan banyak cara (uslub) agar dakwah berjalan efektif. Sementara warna-warni latarbelakang juru dai juga memerlukan code of conduct agar tercipta iklim sinergi, bukan malah kompetisi.
Sementara itu, ruh Aksi Bela Islam 212 yang sangat mempengaruhi sebagian besar umat Islam Indonesia harus tetap dipelihara. Inilah pentingnya organisasi, agar modal besar hadiah dari langit ini dapat dikelola dengan baik. Sehingga mampu mengarahkan gerak dan pikiran umat menuju cita-cita luhur bersama, yaitu: siyadah (supremasi) syariat Allah dalam berbagai aspek kehidupan manusia.
Sekali lagi, menumpukan harapan pada buah keputusan politik GNPF Ulama berarti siap-siap juga untuk kecewa. Sebab, keputusan itu “hanyalah” sebuah ijtihad mencari jalan terbaik di antara sistem politik Indonesia yang kotor.
Selain perlu melihat buah-buah lain dari ijtima kemarin, kita juga tak boleh melupakan proses yang berhasil dilaksanakan. Yaitu, berkumpulnya para ulama untuk duduk dan bermusyawarah. Sambil berdoa agar ke depan, proses serupa bisa berjalan lebih baik sehingga mampu menghasilkan buah yang lebih baik pula.
Sumber kiblat

